Keyakinan akan datang setitik cahaya terang dalam senja. Mengantarkan tubuh renta datang kekota pendidikan, Yogyakarta. Rindu yang membiru tidak menghalangi kesakitannya untuk menemui buah hati tercinta. Aku sadar aku tidak cukup pantas untuk ditemui oleh tubuh suci yang selalu mencintaiku. Aku hanya bisa terpaku disini tanpa tahu apa yang seharusnya aku lakukan unutk menebus semua cinta dan kasih sayangnya. Peluit panjang kereta silih berganti datang dan menghilang, tidak sedikitpun membuatku sadar akan satu sosok yang sedang aku tunggu. Aku masih belum sadar begitu besar pengorbanan dan perjuangannya selama 22 tahun ini dalam membesarkanku. Tapi apa yang aku lakukan untuk beliau? Jawabannya TIDAK ADA. Aku tidak lebih dari anak durhaka, yang tidak tahu arti kasih sayang dan cinta. Sampai akhirnya pukul 21.46 kereta Ekonomi Gaya Baru Malam tiba distasiun Lempuyangan aku baru tersadar ada satu tubuh renta yang sedang mencariku dengan rindu biru. Aku pun langsung menghambur kearah gerbong kereta. Ya Allah penuh sesak orang didalam sana, aku tidak bisa membayangkan tubuh itu berjuang untuk bisa sampai disini hanya untuk menghilangkan rindu pada anaknya yang durhaka. Satu persatu gerbong aku telusuri, tidak ada tanda-tanda beliau turun diantaranya. Aku makin takut, sampai akhirnya aku tiba digerbong terakhir tidak aku temukan juga wajah sayunya. Tanpa sadar air mataku menetes, aku tak kuasa menahan ketakutanku. Lututku pun lemas, didepan musholla stasiun lempuyangan aku tidak kuat menahan tubuhku yang gemetar, dengan tangan gemetar aku menekan 12 digit nomor yang sudah aku hapal dari dulu, nomor ibu ku. Mendengar suara ibu aku langsung menangis tanpa bisa berkata-kata, aku baru sadar ternyata aku sangat takut kehilangan beliau dengan nada lembut ibu hanya berkata “sabar Nu bapak pasti sudah sampai distasiun”. Setelah menutup telpon ibuku, ada satu SMS masuk “mba’e, bapak’e mba dewi sudah sampai distasiun. Makash”. Dengan serta merta aku menelpon nomer tersebut. Alhamdulillah sekarang aku sudah melihat tubuh yang aku cintai ada didepan mataku.
Hari ini aku baru menyadari betapa berharganya aku bagi beliau. Sampai-sampai beliau datang jauh-jauh dari Indramayu ke Jogja tanpa bekal apapun demi menghilangkan rindunya pada ku. Aku terus mencoba menahan tangis, aku tak ingin beliau melihatku menangis. Perjuangannya sangat besar untukku, cintanya tidak dapat digantikan oleh lelaki manapun didunia ini. Nasehatnya selalu membuatku sejuk, pengetahuannya selalu membuat ku terpacu untuk belajar. Beliau lah motivatorku yang paling besar, beliau lah yang membuatku bertahan hidup sampai sekarang, beliaulah yang senantiasa mensuport ku untuk tetap berdiri dengan semua kekuranganku, beliaulah yang selalu menemaniku. Dan beliau lah nyawa hidupku, Bapak Abdullah. Thanx, you’re the best in my heart n’ my life. Always love you forever..... I <3 You J
0 komentar:
Posting Komentar